Sumber
dari optimisme yang kami rasakan adalah sebuah visi yang lebih mulia
daripada penghentian peperangan dan pembentukan aparat-aparat kerja sama
internasional. Menurut Baha’u’llah, perdamaian abadi di antara
negara-negara adalah suatu tahap yang penting, tetapi bukan tujuan akhir
dalam perkembangan sosial umat manusia. Tujuan itu jauh melebihi
gencatan senjata yang semula dipaksakan kepada dunia oleh rasa takut
akan bencana perang nuklir; jauh melebihi perdamaian politik yang dengan
enggan disetujui oleh negara-negara yang saling bersaing dan
mencurigai; jauh melebihi aturan-aturan pragmatis demi keamanan danhidup
berdampingan; bahkan jauh melebihi banyak percobaan-percobaan kerja
sama yang akan dimungkinkan oleh langkah-langkah tersebut.
Tujuan yang
mulia itu adalah penyatuan semua bangsa di dunia menjadi satu keluarga
universal.
Perpecahan
merupakan bahaya yang tak tertahankan lagi oleh negara-negara dan
bangsa-bangsa di dunia; akibatnya terlalu mengerikan untuk dibayangkan,
terlalu jelas hingga tidak perlu dibuktikan. Lebih dari seabad yang lalu
Baha’u’llah menulis “Kesejahteraan, kedamaian dan keamanan umat
manusia, tidak mungkin tercapai kecuali bila persatuannya telah
didirikan dengan teguh.” Memperhatikan bahwa “umat manusia sedang
merintih, sedang mendambakan dengan sangat agar dibimbing ke arah
persatuan dan agar berakhir kesyahidan yang dideritanya sepanj ang
zaman,” Shoghi Effendi telah mengulas lebih lanjut, bahwa “Penyatuan
seluruh umat manusia merupakan tanda keunggulan dari tahap yang kini
sedang disongsong oleh masyarakat manusia. Persatuan keluarga, suku,
negara-kota dan bangsa, pernah berturut-turut dicoba dengan berhasil dan
sudah didirikan dengan sempurna.
Persatuan
dunia adalah tujuan yang sedang diperjuangkan oleh umat manusia yang
terusik ini. Proses pembentukan bangsa sudah berakhir. Anarki yang
terkandung dalam kedaulatan negara sedang mendekati puncaknya. Dunia
yang tumbuh menuju kedewasaannya harus meninggalkan jimat yang
dikeramatkan itu, mengakui kesatuan dan keutuhan hubungan-hubungan
manusia, dan sekali untuk selamanya membangun perlengkapan yang dapat
mewujudkan, dengan cara terbaik, asas fundamental dari kehidupannya
itu.”
Semua
kekuatan perubahan masa kini membenarkan pandangan itu. Bukti-buktinya
dapat dilihat dalam banyak contoh yang telah disebutkan di atas mengenai
tanda-tanda ke arah perdamaian dunia dalam berbagai pergerakan dan
perkembangan internasional baru-baru ini. Rombongan laki-laki dan
perempuan yang berasal dari hampir semua lingkungan kebudayaan, ras dan
bangsa di dunia, yang mengabdi pada berbagai instansi Perserikatan
Bangsa-Bangsa, merupakan suatu “pamong praja” seplanet.
Prestasi-prestasinya
yang sangat mengesankan menunjukkan tingkat kerja sama yang dapat
dicapai, sekalipun dalam kondisi-kondisi yang sulit. Suatu dorongan
menuju persatuan, bagaikan musim semi rohaniah, sedang berjuang untuk
menyatakan diri melalui kongres-kongres internasional yang tak terhitung
jumlahnya, yang mempertemukan orang-orang dari bermacam-macam bidang
keahlian. Dorongan itulah yang menyebabkan adanya senlan untuk
proyek-proyek internasional yang melibatkan anak-anak dan pemuda. Memang
itulah sumber sebenarnya dari pergerakan yang menakjubkan ke arah
perpaduan, di mana para anggota dari banyak agama dan sekte yang
sepanjang sejarahnya selalu bertentangan, sekarang tampaknya saling
tertarik satu sama lain. Bersama-sama dengan kecenderungan yang
berlawanan dengannya, yaitu untuk berperang dan mengagungkan diri
sendiri, yang dilawannya dengan tiada henti-hentinya, dorongan menuju
persatuan dunia adalah salah satu ciri yang dominan dan merata dari
kehidupan di bumi pada tahun-tahun penutup abad kedua puluh ini.
Pengalaman
masyarakat Baha’i dapat dilihat sebagai contoh dari persatuan yang
sedang berkembang itu. Masyarakat ini terdiri dari kira-kira tiga sampai
empat juta orang yang berasal dari banyak negara, kebudayaan, kelas dan
kepercayaan, yang sedang menjalankan berbagai kegiatan yang melayani
kebutuhan-kebutuhan rohani, sosial dan ekonomi dari orang-orang di
banyak negeri. Masyarakat ini berupa satu organisme sosial yang mewakili
keanekaragaman keluarga manusia, yang menjalankan urusan-urusannya
melalui suatu sistem prinsip-prinsip musyawarah yang telah diterima
bersama, dan sama-sama menghargai semua curahan bimbingan Ilahi dalam
sejarah umat manusia. Adanya masyarakat itu merupakan bukti lain yang
meyakinkan dari praktisnya visi Pendirinya berkenaan dengan suatu dunia
yang bersatu, merupakan bukti yang lain lagi bahwa umat manusia dapat
hidup sebagai satu masyarakat global, sanggup menghadapi
tantangan-tantangan apa saja yang muncul akibat proses pendewasaannya.
Jika pengalaman Baha’i sedikit atau banyak dapat menyumbang untuk
memperkuat harapan akan persatuan umat manusia, maka dengan senang hati
kami ingin menawarkannya sebagai model untuk ditelaah. Dalam merenungkan
betapa pentingnya tugas yang kini menantang seluruh dunia, kami
menundukkan kepala dengan segala kerendahan di hadirat Sang Pencipta
Yang Maha Agung yang dari kasih-Nya yang tak terhingga telah menciptakan
seluruh manusia dari benih yang sama; telah memuliakan manikam hakikat
manusia, mengaruniainya dengan akal dan kearifan, keluhuran dan
keabadian; serta menganugerahi manusia “keunggulan dan kemampuan yang
unik untuk mengenal-Nya dan mencintai-Nya," sebuah kemampuan yang “harus
dianggap sebagai penyebab dan tujuan utama yang mendasari keseluruhan
ciptaan.”
Kami
berpegang teguh pada keyakinan, bahwa semua manusia telah diciptakan
“untuk melanjutkan peradaban yang terus maju”; bahwa “berkelakuan
seperti binatang-binatang di padang adalah tidak layak bagi manusia”;
bahwa sifat-sifat yang sesuai dengan martabat manusia adalah sifat dapat
dipercaya, kesabaran, kerahiman, belas kasihan dan kasih sayang kepada
semua manusia.
Kami
menegaskan lagi kepercayaan, bahwa “kemampuan-kemampuan yang terkandung
dalam martabat manusia, keseluruhan tujuannya di bumi, keunggulan alami
dari hakikatnya, semuanya harus diwujudkan pada Hari Tuhan yang
dijanjikan ini.” Itulah pendorong keyakinan kami yang tak tergoyahkan,
bahwa persatuan dan perdamaian adalah tujuan yang dapat dicapai dan yang
sedang diperjuangkan oleh umat manusia.
Pada saat
ini ditulis, terdengar suara-suara penuh harap dari kaum Baha’i,
meskipun mereka masih mengalami penganiayaan di tanah kelahiran Agama
mereka. Melalui teladan mereka berupa harapan yang teguh, mereka memberi
kesaksian terhadap kepercayaan bahwa realisasi dari perdamaian yang
sejak lama diimpikan, sekarang mempunyai kekuatan yang berasal dari
kekuasaan Ilahi, berkat efek pengubah dari wahyu Baha’u’llah.
Dengan
demikian, yang kami sampaikan kepada Anda bukanlah sekadar suatu visi
dalam kata-kata saja: kami mengerahkan kekuatan tindakan-tindakan yang
berasal dari keimanan dan pengorbanan; kami menyampaikan kepada Anda
permohonan yang penuh kekhawatiran dari para penganut seagama kami di
mana-mana, untuk perdamaian dan persatuan. Kami bergabung dengan semua
yang menjadi korban agresi, semua yang merindukan penyelesaian konflik
dan pertentangan. Kami bergabung dengan semua yang kesetiaannya pada
asas-asas perdamaian dan keteniban dunia, memajukan tujuan-tujuan luhur
untuk apa umat manusia telah dijadikan oleh Pencipta Yang Maha Pengasih.
Dari
kesungguhan hasrat untuk menyampaikan besarnya harapan kami dan dalamnya
keyakinan kami, kami mengutip janji yang tegas dari Baha’u’llah:
"Persengketaan-persengketaan yang tak bergma, peperangan-peperangan yang
menghancurkan ini akan berlalu, dan ‘Perdamaian Maha Agung‘ pasti
datang.”
BALAI KEADILAN SEDUNIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar