Laman

Kamis, 31 Maret 2016

Janji Perdamaian Dunia IV (Sambungan III, Habis)

Sumber dari optimisme yang kami rasakan adalah sebuah visi yang lebih mulia daripada penghentian peperangan dan pembentukan aparat-aparat kerja sama internasional. Menurut Baha’u’llah, perdamaian abadi di antara negara-negara adalah suatu tahap yang penting, tetapi bukan tujuan akhir dalam perkembangan sosial umat manusia. Tujuan itu jauh melebihi gencatan senjata yang semula dipaksakan kepada dunia oleh rasa takut akan bencana perang nuklir; jauh melebihi perdamaian politik yang dengan enggan disetujui oleh negara-negara yang saling bersaing dan mencurigai; jauh melebihi aturan-aturan pragmatis demi keamanan danhidup berdampingan; bahkan jauh melebihi banyak percobaan-percobaan kerja sama yang akan dimungkinkan oleh langkah-langkah tersebut. 

Tujuan yang mulia itu adalah penyatuan semua bangsa di dunia menjadi satu keluarga universal.
Perpecahan merupakan bahaya yang tak tertahankan lagi oleh negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia; akibatnya terlalu mengerikan untuk dibayangkan, terlalu jelas hingga tidak perlu dibuktikan. Lebih dari seabad yang lalu Baha’u’llah menulis “Kesejahteraan, kedamaian dan keamanan umat manusia, tidak mungkin tercapai kecuali bila persatuannya telah didirikan dengan teguh.” Memperhatikan bahwa “umat manusia sedang merintih, sedang mendambakan dengan sangat agar dibimbing ke arah persatuan dan agar berakhir kesyahidan yang dideritanya sepanj ang zaman,” Shoghi Effendi telah mengulas lebih lanjut, bahwa “Penyatuan seluruh umat manusia merupakan tanda keunggulan dari tahap yang kini sedang disongsong oleh masyarakat manusia. Persatuan keluarga, suku, negara-kota dan bangsa, pernah berturut-turut dicoba dengan berhasil dan sudah didirikan dengan sempurna.


Persatuan dunia adalah tujuan yang sedang diperjuangkan oleh umat manusia yang terusik ini. Proses pembentukan bangsa sudah berakhir. Anarki yang terkandung dalam kedaulatan negara sedang mendekati puncaknya. Dunia yang tumbuh menuju kedewasaannya harus meninggalkan jimat yang dikeramatkan itu, mengakui kesatuan dan keutuhan hubungan-hubungan manusia, dan sekali untuk selamanya membangun perlengkapan yang dapat mewujudkan, dengan cara terbaik, asas fundamental dari kehidupannya itu.”

Semua kekuatan perubahan masa kini membenarkan pandangan itu. Bukti-buktinya dapat dilihat dalam banyak contoh yang telah disebutkan di atas mengenai tanda-tanda ke arah perdamaian dunia dalam berbagai pergerakan dan perkembangan internasional baru-baru ini. Rombongan laki-laki dan perempuan yang berasal dari hampir semua lingkungan kebudayaan, ras dan bangsa di dunia, yang mengabdi pada berbagai instansi Perserikatan Bangsa-Bangsa, merupakan suatu “pamong praja” seplanet.

Prestasi-prestasinya yang sangat mengesankan menunjukkan tingkat kerja sama yang dapat dicapai, sekalipun dalam kondisi-kondisi yang sulit. Suatu dorongan menuju persatuan, bagaikan musim semi rohaniah, sedang berjuang untuk menyatakan diri melalui kongres-kongres internasional yang tak terhitung jumlahnya, yang mempertemukan orang-orang dari bermacam-macam bidang keahlian. Dorongan itulah yang menyebabkan adanya senlan untuk proyek-proyek internasional yang melibatkan anak-anak dan pemuda. Memang itulah sumber sebenarnya dari pergerakan yang menakjubkan ke arah perpaduan, di mana para anggota dari banyak agama dan sekte yang sepanjang sejarahnya selalu bertentangan, sekarang tampaknya saling tertarik satu sama lain. Bersama-sama dengan kecenderungan yang berlawanan dengannya, yaitu untuk berperang dan mengagungkan diri sendiri, yang dilawannya dengan tiada henti-hentinya, dorongan menuju persatuan dunia adalah salah satu ciri yang dominan dan merata dari kehidupan di bumi pada tahun-tahun penutup abad kedua puluh ini.

Pengalaman masyarakat Baha’i dapat dilihat sebagai contoh dari persatuan yang sedang berkembang itu. Masyarakat ini terdiri dari kira-kira tiga sampai empat juta orang yang berasal dari banyak negara, kebudayaan, kelas dan kepercayaan, yang sedang menjalankan berbagai kegiatan yang melayani kebutuhan-kebutuhan rohani, sosial dan ekonomi dari orang-orang di banyak negeri. Masyarakat ini berupa satu organisme sosial yang mewakili keanekaragaman keluarga manusia, yang menjalankan urusan-urusannya melalui suatu sistem prinsip-prinsip musyawarah yang telah diterima bersama, dan sama-sama menghargai semua curahan bimbingan Ilahi dalam sejarah umat manusia. Adanya masyarakat itu merupakan bukti lain yang meyakinkan dari praktisnya visi Pendirinya berkenaan dengan suatu dunia yang bersatu, merupakan bukti yang lain lagi bahwa umat manusia dapat hidup sebagai satu masyarakat global, sanggup menghadapi tantangan-tantangan apa saja yang muncul akibat proses pendewasaannya. Jika pengalaman Baha’i sedikit atau banyak dapat menyumbang untuk memperkuat harapan akan persatuan umat manusia, maka dengan senang hati kami ingin menawarkannya sebagai model untuk ditelaah. Dalam merenungkan betapa pentingnya tugas yang kini menantang seluruh dunia, kami menundukkan kepala dengan segala kerendahan di hadirat Sang Pencipta Yang Maha Agung yang dari kasih-Nya yang tak terhingga telah menciptakan seluruh manusia dari benih yang sama; telah memuliakan manikam hakikat manusia, mengaruniainya dengan akal dan kearifan, keluhuran dan keabadian; serta menganugerahi manusia “keunggulan dan kemampuan yang unik untuk mengenal-Nya dan mencintai-Nya," sebuah kemampuan yang “harus dianggap sebagai penyebab dan tujuan utama yang mendasari keseluruhan ciptaan.”

Kami berpegang teguh pada keyakinan, bahwa semua manusia telah diciptakan “untuk melanjutkan peradaban yang terus maju”; bahwa “berkelakuan seperti binatang-binatang di padang adalah tidak layak bagi manusia”; bahwa sifat-sifat yang sesuai dengan martabat manusia adalah sifat dapat dipercaya, kesabaran, kerahiman, belas kasihan dan kasih sayang kepada semua manusia.
Kami menegaskan lagi kepercayaan, bahwa “kemampuan-kemampuan yang terkandung dalam martabat manusia, keseluruhan tujuannya di bumi, keunggulan alami dari hakikatnya, semuanya harus diwujudkan pada Hari Tuhan yang dijanjikan ini.” Itulah pendorong keyakinan kami yang tak tergoyahkan, bahwa persatuan dan perdamaian adalah tujuan yang dapat dicapai dan yang sedang diperjuangkan oleh umat manusia.

Pada saat ini ditulis, terdengar suara-suara penuh harap dari kaum Baha’i, meskipun mereka masih mengalami penganiayaan di tanah kelahiran Agama mereka. Melalui teladan mereka berupa harapan yang teguh, mereka memberi kesaksian terhadap kepercayaan bahwa realisasi dari perdamaian yang sejak lama diimpikan, sekarang mempunyai kekuatan yang berasal dari kekuasaan Ilahi, berkat efek pengubah dari wahyu Baha’u’llah.

Dengan demikian, yang kami sampaikan kepada Anda bukanlah sekadar suatu visi dalam kata-kata saja: kami mengerahkan kekuatan tindakan-tindakan yang berasal dari keimanan dan pengorbanan; kami menyampaikan kepada Anda permohonan yang penuh kekhawatiran dari para penganut seagama kami di mana-mana, untuk perdamaian dan persatuan. Kami bergabung dengan semua yang menjadi korban agresi, semua yang merindukan penyelesaian konflik dan pertentangan. Kami bergabung dengan semua yang kesetiaannya pada asas-asas perdamaian dan keteniban dunia, memajukan tujuan-tujuan luhur untuk apa umat manusia telah dijadikan oleh Pencipta Yang Maha Pengasih.

Dari kesungguhan hasrat untuk menyampaikan besarnya harapan kami dan dalamnya keyakinan kami, kami mengutip janji yang tegas dari Baha’u’llah: "Persengketaan-persengketaan yang tak bergma, peperangan-peperangan yang menghancurkan ini akan berlalu, dan ‘Perdamaian Maha Agung‘ pasti datang.”

BALAI KEADILAN SEDUNIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar