Laman

Sabtu, 05 Desember 2015

Janji Perdamaian Dunia (Oktober 1985)

Oktober 1985
Kepada Semua Bangsa di Dunia:
Perdamaian Agung yang selama berabad-abad didambakan oleh orang-orang yang berkemauan luhur, yang visinya telah disampaikan para peramal serta penyair turun-temurun, dan sepanjang zaman selalu dijanjikan oleh tulisan-tulisan suci umat manusia, kini akhirnya berada dalam jangkauan semua bangsa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sekarang terbuka kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat seluruh bumi dengan semua bangsanya yang beraneka ragam, dalam saru perspektif.
Perdamaian dunia tidak hanya mungkin, tetapi pasti terjadi.
Perdamaian merupakan tahap lanjutan dalam evolusi bumi, yang menurut salah seorang pemikir besar dikatakan sebagai “planetisasi umat manusia”.
Apakah perdamaian akan dicapai hanya setelah kengerian-kengerian yang tak terbayangkan yang disebabkan sikap keras kepala manusia untuk tetap berpegang teguh pada pola tingkah laku yang lama, ataukah sekarang perdamaian itu akan diraih melalui suatu tindakan nyata dari permusyawarahan, inilah pilihan bagi semua yang mendiami bumi. Pada persimpangan yang kritis ini, ketika pelbagai masalah pelik yang sedang dihadapi segenap bangsa telah berpadu menjadi suatu kepentingan bersama bagi seluruh dunia, maka tidak membendung meningkatnya perselisihan dan kekacauan adalah tindakan yang sama sekali tidak bertanggung jawab.

Di antara tanda-tanda yang menggembirakan adalah: semakin kuatnya langkah-langkah ke arah tata dunia, yang mula-mula diambil pada awal abad ini dengan berdirinya Liga Bangsa-Bangsa yang kemudian digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berasas lebih luas; tercapainya kemerdekaan oleh sebagian besar bangsa-bangsa di dunia sejak Perang Dunia Kedua, yang menandakan penyelesaian proses pembentukan bangsa, serta keterlibatan negara-negara baru itu dengan negara-negara yang lebih tua dalam banyak hal yang menyangkut kepentingan bersama; peningkatan yang sangat luas dalam kerja sama antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok-yang sebelumnya terpencil atau bermusuhan dalam proyek-proyek internasional dalam bidang-bidang ilmiah, pendidikan, hukum, ekonomi, dan kebudayaan; kebangkitan sejumlah organisasi kemanusiaan internasional dalam beberapa dekade terakhir ini; tersebarnya pergerakan-pergerakan wanita dan pemuda yang bersenl untuk mengakhiri perang; serta kelahiran spontan jaringan-jaringan di antara orang-orang biasa yang mencari saling pengertian melalui hubungan pribadi.

Kemajuan ilmiah clan teknologi yang sedang berlangsung dalam abad yang penuh berkah ini mengisyaratkan adanya suatu gelombang kemajuan besar dalam evolusi sosial planet ini dan
menunjukkan cara-cara untuk memecahkan persoalan praktis yang dihadapi umat manusia. Memang, kemajuan ilmiah dan teknologi itulah yang menyediakan sarana bagi tata laksana kehidupan yang
kompleks dari suatu dunia yang bersatu. Namun rintangan-rintangan tetap ada. Keraguan, kesalahpahaman, prasangka, kecurigaan dan sikap picik mementingkan diri sendiri menghinggapi banyak negara dan bangsa dalam hubungan mereka antara satu dengan yang lain.

Karena rasa kewajiban spiritual dan moral yang dalam, pada saat yang tepat ini kami terdorong untuk mengundang perhatian Anda pada Wawasan-wawasan tajam yang untuk pertama kalinya telah disampaikan kepada para penguasa umat manusia lebih dari seabad yang lalu oleh Baha’u’llah, Pendiri Agama Baha’i, sedangkan kami adalah Dewan Perwakilannya.
Baha’u’llah menulis:
“Sayang, angin keputusasaan sedang bertiup dari segala penjuru, persengketaan yang memecah-belah dan menyakiti umat manusia kian hari kian bertambah. Tanda-tanda pergolakan dan kekacauan yang akan datang kini dapat dilihat, karena tatanan yang sedang berlaku tampaknya banyak kekurangannya.”
Penilaian yang bersifat ramalan ini telah cukup terbukti dengan pengalaman bersama umat manusia. Kekurangan-kekurangan pada tatanan yang sedang berlaku terlihat dengan jelas pada ketidakmampuan negara-negara berdaulat yang terorganisasi dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyingkirkan hantu peperangan, ancaman kehancuran tatanan ekonomi internasional, meluasnya anarki dan terorisme, serta penderitaan berat yang semakin menimpa berjuta-juta orang sebagai akibat dari hal-hal tersebut serta banyak malapetaka lainnya. Memang, sekian banyak agresi dan perselisihan telah mewarnai sistem-sistem sosial, ekonomi, dan keagamaan kita, sehingga banyak orang sampai pada kesimpulan bahwa perilaku seperti itu merupakan sifat hakiki manusia dan oleh karena itu tak dapat dihilangkan.

Dengan mengakarnya pandangan ini, maka suatu kontradiksi yang melumpuhkan telah berkembang dalam urusan-unxsan umat manusia. Di satu pihak, para warga dari semua bangsa mengumumkan bukan hanya kesediaan mereka, tetapi juga kerinduan mereka pada perdamaian dan keselarasan serta berakhirnya ketakutan-ketakutan yang menyiksa kehidupan mereka sehari-hari. Di pihak lain, persetujuan tanpa kritik telah diberikan terhadap pendapat bahwa manusia pada hakikatnya bersifat sangat egois dan agresif, sehingga manusia tidak mampu mendirikan suatu sistem sosial yang bersifat progresif dan sekaligus damai, dinamis dan selaras, suatu sistem yang memberikan kebebasan pada kreativitas dan inisiatif perorangan, tetapi didasarkan pada kerja sama dan hubungan timbal balik.

Dengan semakin mendesaknya kebutuhan akan perdamaian, maka adanya kontradiksi mendasar ini yang menghalangi tewvujudnya perdamaian, mengharuskan diadakannya penilaian kembali terhadap asumsi-asumsi yang mendasari pandangan umum tentang keadaan sejarah umat manusia. Bila diamati dengan seksama, maka fakta-fakta menunjukkan bahwa perilaku yang demikian itu sama sekali tidak menunjukkan manusia sejati, tetapi justru menunjukkan suatu penyimpangan dari jiwa sejati manusia.

Pengakuan atas hal ini akan memungkinkan semua orang menggerakkan kekuatan-kekuatan sosial yang konstruktif, yang karena sesuai dengan sifat-dasar manusia akan menumbuhkan keselarasan dan kerja sama, bukannya perang dan perselisihan.

Memilih jalan demikian, bukan berarti menolak masa lalu umat manusia, tetapi justru memahaminya. Agama Baha’i menganggap kekacauan dunia dan malapetaka dalam urusan-urusan umat manusia sekarang ini sebagai fase alami dari suatu proses organik, yang pada akhirnya secara tak terelakkan, mengarah pada penyatuan umat manusia dalam suatu tatanan sosial yang batas-batasnya adalah batas-batas planet ini. Umat manusia sebagai suatu kesatuan organik tersendiri, telah melewati tahap-tahap evolusi yang dapat disamakan dengan tahap masa bayi dan masa kanak-kanak dalam kehidupan masing-masing anggotanya, dan kini berada di puncak keremajaannya yang bergolak menjelang kedewasaan yang telah lama ditunggu-tunggu.

Pengakuan jujur bahwa prasangka, peperangan dan eksploitasi itu adalah ungkapan dari tahap-tahap pra-kedewasaan dalam proses sejarah yang maha luas, dan bahwa umat manusia hari ini sedang mengalami kekacauan yang tak terhindarkan yang menandakan datangnya kedewasaan, bukanlah alasan untuk berputus asa, tetapi mempakan prasyarat untuk upaya maha besar membangun suatu dunia yang aman sentosa. Bahwa upaya semacam itu bisa dilaksanakan, bahwa daya-daya konstruktif benar-benar ada, bahwa struktur-struktur sosial yang mempersatukan dapat ditegakkan, adalah tema yang kami anjurkan bagi Anda untuk diselidiki.

Apa pun penderitaan dan kekacauan yang mungkin terjadi di tahun-tahun mendatang, betapa pun gelapnya keadaan dalam waktu dekat, masyarakat Baha’i percaya bahwa umat manusia dapat menghadapi cobaan besar ini dengan keyakinan akan hasil akhirnya yang baik. Jauh dari maksud mengisyaratkan berakhimya peradaban, perubahan-perubahan dahsyat yang ke arah perubahan itu umat manusia semakin cepat terdorong akan berperan untuk membebaskan “kemampuan-kemampuan yang terkandung dalam manabat manusia” dan memperlihatkan “keseluruhan tujuan manusia di bumi, keunggulan alami dari hakikatnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar