Laman

Sabtu, 05 Maret 2016

Akhirat dan Hari Akhir

Tulisan berikut ini saya COPAS dari FP sebelah. Menarik untuk dibaca, sebab menjelaskan konsep pemahaman dua kata/frasa, yang sepertinya sederhana. Tetapi ini sebenarnya menjadi kunci kekuatan keimanan kita terhadap Agama.
Agama apapun tidak asing lagi dengan kata/frasa tersebut, namun pengertiannya bertolak belakang dengan penjelasan di artikel ini. Jadi lawannya (pemahaman ini) adalah manusia sedunia. 
Kebanyakan orang selalu mencampur adukkan istilah-istilah Akhirat dan Hari Akhir (Yaumil Akhir), padahal pengertiannya berbeda sama sekali. Kadang-kadang ada yang menterjemahkan "Akhirat" (Bahasa Arab) itu dengan kata Hari Akhirat. Padahal kata Akhirat itu tidak pernah dihubungkan dengan Kata "Hari" (Yaum).

Yang ada kata Hari adalah istilah Hari Akhir (Yaumul Akhir).
Terjemahan yang salah itu terdapat dalam beberapa Kitab Tafsir Al-Qur'an, yakni Tafsir Al-Azhar Prof DR. Hamka Juz 1, kata-kata Hari Akhirat berulang-ulang sampai 21 kali ditulis, yakni halaman 120, 128, 203, 204, 205, 206, 207, 208, 209, 210.

Dalam Al-Qur'an dan Terjemahannya, Depag RI 1981/1983 halaman 55,543, 912, 945

Dalam Al-Furqon Tafsir Qur'an oleh A. Hasan dalam Surat Al-Baqoroh (2) : 4 "Akhirat" diterjemahkan "Hari Kemudian". Didalam halaman 8 ket. bawah No. 29 tertulis di "Hari Akhirat".
Mungkin di tempat lain dalam Kitab lainnya masih banyak terjemahan yang salah begini. Mengapa mereka itu (para penafsir) menterjemahkan demikian? Padahal jelas sekali Bahasa Arabnya "Akhirat" tentu kita harus terjemahkan "Akhirat" juga, jangan ditambah kata 'Hari' didepannya, karena kata Bahasa Arabnya tidak memakai Kata Yaum. Kata "Yaumil Akhir" tentu harus diterjemahkan "Hari Akhir", karena 'Yaum' diterjemahkan 'Hari'.

Para penafsir diatas dan mungkin yang lainnya adalah Ulama-ulama besar, yang mendalam ilmunya tentang Agama, yang pandai dan fasih Bahasa Arabnya, tetapi mengapa menterjemahkan "Akhirat" dengan "Hari Akhirat", sehingga dicampur-adukkan dengan Yaumil Akhir (Hari Akhir). Jika kita teliti Kitab Suci Al-Qur'an dengan seksama maka akan nyata bahwa kata "Akhirat" itu didahului dengan kata "Yaum". Silahkan periksa sendiri Al-Qur'an. Yang memakai kata "Yaum" itu istilah "Yaumil Akhir", mengapa para ulama mencampur adukkan kedua istilah ini. Mungkin karena kedua-duanya mengandung kata Akhir, yakni "Akhirat" dan "Yaumil Akhir".

Apakah bedanya istilah itu? Akhirat adalah nama suatu "tempat", yakni kebalikan dari 'dunia'. Dunia adalah tempat manusia sewaktu masih berbentuk jasmani, sedang Akhirat adalah tempat "Roh manusia tanpa jasmani'. Kata 'Akhirat' kadang disambung dengan kata "Dar" menjadi "Darul Akhirat". Tidak pernah disambung dengan kata "Hari" (Yaum). Darul Akhirat artinya Negeri Akhirat atau Kampung Akhirat. Negeri Akhirat atau secara luas bisa disebut Alam Akhirat, adalah Alam Baka atau 'Alam Rohani'. Kebalikan dari alam dunia atau alam fana, atau alam jasmani. Seperti halnya ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada lahir ada batin, ada atas ada bawah, ada jiwa ada raga, ada untung ada rugi dan sebagainya. Demikian pula alam dunia dan Alam Akhirat. Akhirat adalah suatu tempat roh setelah lepas dari badan.

Lain halnya dengan kata "Hari Akhir" (Yaumil Akhir) adalah suatu istilah waktu atau masa, bukan suatu tempat, dan bukan kebalikan dari sesuatu. Seperti dalam istilah sehari-hari dalam kehidupan manusia ada istilah-istilah : Hari Lahir, Hari Jadi, Hari Sumpah Pemuda, dan lain-lain. Ada juga istilah Hari dalam seminggu, yakni Hari Minggu, Senin, Selasa dan sebagainya.
Kata Hari disini penting untuk menyatakan jangka waktu. Istilah-istilah yang memakai 'Hari' itu berlaku selama sehari. Misalnya Hari Lahir, hanya berlaku sehari. Besoknya sudah bukan Hari Lahir lagi, karena sudah lewat. Kemarinnya juga bukan hari lahirnya, karena belum waktunya. Jadi istilah 'Hari' itu berlaku sehari.

Demikian pula dalam Agama, istilah 'Hari' juga berlaku sehari, yakni "Hari Akhir" itu lamanya sehari, hanya dalam istilah Tuhan sehari itu adalah seribu tahun dalam hitungan manusia, seperti tersebut dalam ayat-ayat berikut.

• Al-Hajj (22) : 47
"Dan mereka meminta kepadamu kedatangan azab dengan lekas, padahal Allah tidak akan menyalahi janjinya, dan sesungguhnya Sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti Seribu Tahun daripada yang kamu hitung".

• As-Sajadah (32) : 5
"Ia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian naik (urusan) itu kepadaNya dalam Satu Hari yang kadarnya adalah Seribu Tahun dari apa yang kamu hitung".
Jadi lamanya Hari Akhir itu adalah Seribu Tahun. Kata Hari Akhir (Yaumil Akhir) ini demikian pentingnya sehingga selalu dihubungkan dengan Allah. "Berimanlah kepada Allah dan Hari Akhir", sama halnya dengan kata Rasul, "Berimanlah kepada Allah dan Rasulnya".

Kalimat "Berimanlah kepada Allah dan dan Hari Akhir" berikut jumlahnya ada 27 kalimat :
2(8) 2(62) 2(126) 2(177) 2(228) 2(232)
2(264) 3(114) 4(38) 4(39) 4(59) 4(136)
4(136) 4(162) 5(09) 9(19) 9(18) 9(29)
9(44) 9(45) 9(99) 24(2) 29(36) 33(21)
58(22) 60(6) 65(2).

Lain halnya dengan kata Akhirat, yang tak pernah dihubungkan dengan Allah, tetapi sering dihubungkan dengan "Penghidupan dunia" (Hayatut-dunya) atau Dunia. Seperti dalam ke-61 ayat di bawah ini (ada 63 buah kata akhirat, karena ada yang disebut 2x dalam satu ayat) diantaranya sbb :
2(86) 2(114) 2(130) 2(200) 2(201) 2(217)
2(145) 3(148) 3(152) 4(74) 4(77) 4(134)
3(67) 9(38)2X 16(41) 9(69) 9(74) 10(64)
14(27) 16(30) 28(70) 16(107) 16(122) 17(72)
2(20) 3(22) 3(45) 3(56) 24(19) 41(16)
5(33) 5(41) 6(32) 7(156) 40(43) 87(17)
12(101) 13(26) 13(34) 14(3) 79(25) 41(31)
22(11) 22(15) 23(33) 24(14) 24(23) 92(13)
28(77) 42(20)2X 43(35) 43(35) 53(25) 51(20)
59(3) 75(21) 79(25) 87(17)

Juga kata 'Akhirat' disambung dengan kata 'Dar' menjadi "Darul Akhirat" (Negeri Akhirat) seperti dalam ayat-ayat berikut (9) Kalimat :
2(94) 6(32) 7(169) 12(109) 16(30) 28(77)
28(83) 29(64) 33(29)

Kata "Dar" sendiri suka diterjemahkan "Akhirat" seperti dalam ayat-ayat :
6(135) 13(32) 13(29) 13(42) 38(46) 40(39)

Kita diwajibkan percaya adanya Akhirat atau Negeri Akhirat atau Alam Rokhani, yakni tempat roh kita setelah berpindah dari tubuh. Kalau tidak percaya, maka kita akan melakukan apasaja agar kita bisa menang dan senang di dunia ini, tanpa mempedulikan orang lain, tanpa berpegang pada kebenaran dan keadilan. Karena ia tidak percaya pada Akhirat, ia akan mengumpulkan harta dan segala macam benda untuk segala kepentingan di dunia ini.

Sebaliknya jika ia percaya adanya Alam Baka itu, dengan sendirinya ia akan mempersiapkan dirinya mulai sekarang juga, agar nanti di Alam Rokhani ia berada dalam keadaan yang menyenangkan dan kebahagiaan yang kekal, yang disebut Syurga. Ia tidak mau kelak dalam keadaan sengsara, susah dan duka cita. Makanya orang-orang yang percaya adanya alam akhirat, akan hidup di bumi ini sesuai dengan apa yang diajarkan Rasul Allah. Orang yang percaya pada Akhirat akan berpedoman pada Kitab Suci, karena Kitab Suci ini merupakan petunjuk dan bimbingan bagi manusia agar berjalan di jalan yang lurus dan benar.

Lain halnya "Beriman pada Hari Akhir" (Yaumul Akhir). Apa sebetulnya Hari Akhir itu? Mengapa ada masa yang disebut Hari Akhir itu? Akhir artinya Penghabisan. Hari Akhir berarti Hari Penghabisan, tetapi penghabisan dari apa? Marilah kita cari Jawabnya. Masih ingatkah bahwa "Tiap-tiap umat itu ada ajalnya?" Ajal berarti Akhir juga, jadi tiap-tiap umat itu ada Akhirnya. Tetapi umat Islam tidak ditinggalkan begitu saja oleh Tuhan YME., Ia akan selalu membimbingnya, yakni dengan jalan mengirimkan seorang Rasul. Maka pada Hari Akhir itu, yakni pada saat ajal umat itu, muncullah seorang Rasul yang akan membimbing manusia seterusnya, yakni meneruskan ajaran Rasul sebelumnya. Hari Akhir itu adalah Akhir dari masa Rasul lama dan awal dari Rasul yang Baru. Oleh karena itu kita harus beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yakni kita harus beriman kepada Allah dan RasulNya yang datang pada Hari Akhir itu.

Makanya ada ayat-ayat yang menyatakan sebagai berikut :

• Al-Baqarah (2) : 62
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan yang beragama Yahudi dan Nasrani dan Shabiin, barang siapa (dari mereka) beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan mengerjakan amal baik, maka mereka akan dapat ganjaran dari Tuhan mereka, dan tidak ada sembarang ketakutan dan tidak bakal mereka berduka cita".

• Al-Maidah (5) : 69
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Shabiin dan Nasrani, barang siapa dari antara mereka, percaya kepada Allah dan Hari Akhir dan beramal Shaleh, maka tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita".

Menurut Tafsir Al-Azhar (Hamka) Juz 1 Hal 203 : "Yang dimaksud orang beriman disini ialah orang yang memeluk Agama Islam, yang telah menyatakan percaya kepada Nabi Muhammad dan akan tetap menjadi pengikutnya sampai Hari Kiamat. Hal 204 "Ayat ini adalah suatu tuntunan bagi menegakkan jiwa, untuk seluruh orang yang percaya kepada Allah. Baik dia yang bernama Mukmin atau Muslim pemeluk Agama Islam, yang telah mengakui Rasulullah Muhammad atau orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin. Disini kita bertemu syarat yang mutlak. Syarat Pertama Iman kepada Allah dan Hari Pembalasan (Harusnya hari Akhir) sebagai inti ajaran dari semua Agama ...."

Akan tetapi kalimat "Orang-orang beriman" dari ayat diatas sering ditafsirkan lain, meskipun dalam bentuk ayat, kalimat "Orang-orang yang beriman" ini diartikan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad. Tetapi mungkin menurut penerjemah atau menurut penafsir "Orang-orang yang beriman" dalam ayat di atas tidak cocok dengan angan-angan mereka, maka ditafsirkan jadi "Orang-orang yang percaya pada adanya Tuhan YME saja, seperti kebatinan.

Mengapa di tempat-tempat lain banyak sekali "Orang-orang yang beriman" ini ditafsirkan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW? Dan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad itu adalah orang-orang Islam.

Jadi kedua ayat di atas berlaku untuk semua manusia di seluruh dunia ini yang mempunyai berbagai macam agama dan kepercayaan, yakni umat Islam, umat Kristen, umat Yahudi, umat Shabiin dan yang lain-lainnya. Jika seluruh umat manusia dimuka bumi ini beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yakni Hari Kebangkitan, Hari beriman kepada Allah dan Rasul yang datang pada Hari Akhir itu maka mereka tidak akan ada ketakutan dan tidak berduka cita.

Mengenai kedua ayat tersebut (2(62) & 5(69)) yang mengatakan bahwa beriman kepada Allah dan Hari Akhir sudah cukup, tidak perlu beriman kepada Nabi Muhammad. Pernyataan ini ditentang oleh para ulama bahwa ayat-ayat Al-Qur'an itu bukan hanya kedua ayat diatas, tetapi masih banyak yang lain. Dan dalam banyak ayat, kita harus beriman kepada Nabi Muhammad juga.

Sebetulnya persoalannya bukan begitu. Memang betul sekali kita cukup beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Soalnya begini. Kalau kita beriman kepada Hari Akhir, berarti kita beriman kepada Rasul yang datang pada Hari Akhir, dan Rasul ini akan menekankan bahwa kita harus beriman juga kepada Nabi Muhammad, yakni mengakui bahwa Muhammad itu adalah salah seorang Rasul yang diutus Allah. Hal ini ditekankan terutama bagi umat Yahudi, umat Kristen dan umat Shabiin yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad. Rasul Baru ini akan mengajarkan bahwa umat-umat ini, yakni Yahudi Nasrani dan Shabiin harus beriman juga kepada Nabi Muhammad, sebagai salah satu syarat beriman kepada Rasul yang datang pada Hari Akhir. Kalau mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad maka tidak diterima oleh Rasul Baru ini. Oleh karena itu kedua ayat di atas menyatakan : Cukuplah manusia seluruhnya beriman kepada Allah dan Hari Akhir, karena di dalam ayat-ayat itu sudah mencakup keharusan beriman kepada Nabi Muhammad juga.

Istilah Hari Akhir (Yaumil Akhir) bisa juga berarti lain, kalau kita memperhatikan ayat lain.

• Al-Hadid (57) : 3
"Ialah yang awal dan yang akhir, yang dhahir dan yang batin".
Dari ayat di atas kita tahu bahwa Tuhan itu ialah yang Akhir, maka Hari Akhir (Yaumil Akhir) bisa berarti Hari Tuhan. Memang cocok sekali disebut Hari Tuhan, karena Tuhan akan jadi Raja pada Hari
Akhir itu, seperti disebut dalam ayat :

• Al-Fatihah (1) : 3
"Raja pada Hari Agama”

• Al-Hajj (22) : 56
"Kerajaan dihari itu kepunyaan Allah”
Pengertian kedua ayat ini bahwa Hari Akhir adakah Hari Tuhan, tidak bertentangan dengan pengertian pertama bahwa Hari Akhir itu Hari datangnya Rasul Baru, karena Tuhan berhubungan dengan manusia harus melalui seorang Rasul.

Kesimpulan :

Alam Akhirat adalah Alam Rokhani yang kekal, abadi yang tiada akhirnya, yakni kehidupan rohani manusia tanpa jasmani, sedangkan Hari Akhir berlangsung selama seribu tahun diatas dunia ini sewaktu rohani manusia masih berada dalam jasmaninya. Itulah bedanya istilah 'Akhirat" dan "Yaumil Akhir".

Sumber:
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=884604094992834&id=291027801017136 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar