Laman

Selasa, 16 Februari 2016

Ada Apa Dengan Cahaya ?



Dalam kamus besar bahasa Indonesia arti kata cahaya adalah:
cahaya/ca·ha·ya/ n 1 sinar atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya; 2 kilau gemerlap (dari emas, berlian): -- nya berkilau bagai intan; 3 kejernihan yang terpancar dari air muka: -- mukanya berseri-seri; 4 Fis bentuk gelombang elektromagnetik dalam kurun frekuensi getar tertentu yang dapat ditangkap dengan mata manusia;

Kamus tersebut menggambarkan cahaya dalam arti lugas dan sebenarnya. Dan tentu saja berbeda jika kata cahaya digunakan dalam makna yang bukan sebenarnya atau khias. Penggunaan kata cahaya dalam arti yang bukan sebenarnya biasa ditemui dalam tulisan-tulisan suci atau dalam percakapan kerohanian.

Dalam pengertian kerohanian, kata cahaya luas sekali maknanya. Inilah mengapa saya sangat tertarik menggunakan kata cahaya. Dalam kitab-kitab suci berbagai agama, kata cahaya sering muncul. Saya tidak punya kapasitas untuk meneliti lebih jauh dalam hal ini, misalnya ada berapa banyak kata cahaya dalam satu kitab, kitab suci apa saja, dan sebagainya. Tetapi telah banyak bukti menunjukkan kata cahaya berlaku universal untuk semua agama. Dan tentu saja pengertiannya juga demikian.

Sifat cahaya yang menerangi, merambat lurus, dapat dibelokkan dan dapat pula dipantulkan. Ini sangat sesuai untuk menggambarkan tentang ilmu atau petunjuk. Sehingga jika seseorang mengatakan “Inilah cahaya kebenaran” maka sudah dapat dipastikan pernyataan ini mengarah pada inilah ilmu / petunjuk kebenaran. Dan telunjuk Nabi Muhammad pun diceritakan dapat mengeluarkan cahaya.

Dalam Agama Baha’i, kata cahaya juga banyak digunakan dalam tulisan sucinya. Dan mengartikan cahaya tak sekedar satu makna. Pengertian cahaya dalam agama Bahai lebih luas dan mendalam. Bahkan sumber cahaya, yaitu matahari, menjadi kata yang merujuk pada makna yang tak jauh berbeda. Bukan berarti saya ingin menafsirkan sembarangan Tulisan suci agama Baha'i, ini karena setiap manusia mempunyai anugerah yang sama, yaitu mengenali cahaya kebenaran. Misalnya dalam kutipan salah satu doa dari agama baha’i berikut ini;

... bawah Kemah Kemurahan-Mu; semuanya berkumpul di sekeliling Meja Kedermawanan-Mu; semuanya diterangi oleh cahaya Kurnia-Mu. Ya Tuhan! Engkau kasih pada semua orang. Engkau telah memelihara semuanya, melindungi semuanya ...

"Cobaan-cobaan … membersihkan noda keakuan dari cermin hati, sehingga Matahari Kebenaran dapat menyinarinya karena tiada tabir yang lebih menghancurkan daripada keakuan dan betapapun tipisnya tabir itu pada akhirnya tabir itu akan sepenuhnya menutupi manusia dan menghalangi dia dari memperoleh bagiannya dari karunia abadi"

Sebenarnya masih banyak contoh kata cahaya dalam agama Bahai, namun saya masih perlu mengumpulkannya. Nanti akan terus update tulisan ini.

Terpenting dari semua itu ‘Memiliki cahaya dan membaginya, menjadikan hidup ini sangat berarti’. Mari Berbagi Cahaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar