Dalam kamus besar bahasa Indonesia
arti kata cahaya adalah:
cahaya/ca·ha·ya/ n 1 sinar
atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang
memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya; 2 kilau
gemerlap (dari emas, berlian): -- nya berkilau bagai intan;
3 kejernihan yang terpancar dari air muka: --
mukanya berseri-seri; 4 Fis bentuk
gelombang elektromagnetik dalam kurun frekuensi getar tertentu yang dapat
ditangkap dengan mata manusia;
Kamus tersebut menggambarkan cahaya dalam arti lugas dan sebenarnya.
Dan tentu saja berbeda jika kata cahaya digunakan dalam makna yang bukan
sebenarnya atau khias. Penggunaan kata cahaya dalam arti yang bukan sebenarnya
biasa ditemui dalam tulisan-tulisan suci atau dalam percakapan kerohanian.
Dalam pengertian kerohanian, kata
cahaya luas sekali maknanya. Inilah mengapa saya sangat tertarik menggunakan
kata cahaya. Dalam kitab-kitab suci berbagai agama, kata cahaya sering muncul. Saya
tidak punya kapasitas untuk meneliti lebih jauh dalam hal ini, misalnya ada
berapa banyak kata cahaya dalam satu kitab, kitab suci apa saja, dan sebagainya.
Tetapi telah banyak bukti menunjukkan kata cahaya berlaku universal untuk semua
agama. Dan tentu saja pengertiannya juga demikian.
Sifat cahaya yang menerangi, merambat lurus, dapat dibelokkan dan dapat
pula dipantulkan. Ini sangat sesuai untuk menggambarkan tentang ilmu atau petunjuk.
Sehingga jika seseorang mengatakan “Inilah cahaya kebenaran” maka sudah dapat
dipastikan pernyataan ini mengarah pada inilah ilmu / petunjuk kebenaran. Dan
telunjuk Nabi Muhammad pun diceritakan dapat mengeluarkan cahaya.
Dalam Agama Baha’i, kata cahaya juga banyak digunakan dalam
tulisan sucinya. Dan mengartikan cahaya
tak sekedar satu makna. Pengertian cahaya
dalam agama Bahai lebih luas dan mendalam. Bahkan sumber cahaya, yaitu matahari, menjadi kata yang merujuk pada makna yang
tak jauh berbeda. Bukan berarti saya ingin menafsirkan sembarangan Tulisan suci
agama Baha'i, ini karena setiap manusia mempunyai anugerah yang sama, yaitu
mengenali cahaya kebenaran. Misalnya dalam kutipan salah satu doa dari agama
baha’i berikut ini;
...
bawah Kemah Kemurahan-Mu; semuanya berkumpul di sekeliling Meja
Kedermawanan-Mu; semuanya diterangi oleh cahaya Kurnia-Mu. Ya Tuhan! Engkau kasih pada semua orang.
Engkau telah memelihara semuanya, melindungi semuanya ...
"Cobaan-cobaan
… membersihkan noda keakuan dari cermin hati, sehingga Matahari
Kebenaran dapat menyinarinya karena tiada tabir yang lebih menghancurkan
daripada keakuan dan betapapun tipisnya tabir itu pada akhirnya tabir itu akan
sepenuhnya menutupi manusia dan menghalangi dia dari memperoleh bagiannya dari
karunia abadi"
Sebenarnya
masih banyak contoh kata cahaya dalam agama Bahai, namun saya masih perlu
mengumpulkannya. Nanti akan terus update tulisan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar