Sumber
dari optimisme yang kami rasakan adalah sebuah visi yang lebih mulia
daripada penghentian peperangan dan pembentukan aparat-aparat kerja sama
internasional. Menurut Baha’u’llah, perdamaian abadi di antara
negara-negara adalah suatu tahap yang penting, tetapi bukan tujuan akhir
dalam perkembangan sosial umat manusia. Tujuan itu jauh melebihi
gencatan senjata yang semula dipaksakan kepada dunia oleh rasa takut
akan bencana perang nuklir; jauh melebihi perdamaian politik yang dengan
enggan disetujui oleh negara-negara yang saling bersaing dan
mencurigai; jauh melebihi aturan-aturan pragmatis demi keamanan danhidup
berdampingan; bahkan jauh melebihi banyak percobaan-percobaan kerja
sama yang akan dimungkinkan oleh langkah-langkah tersebut.
Tujuan yang
mulia itu adalah penyatuan semua bangsa di dunia menjadi satu keluarga
universal.
Perpecahan
merupakan bahaya yang tak tertahankan lagi oleh negara-negara dan
bangsa-bangsa di dunia; akibatnya terlalu mengerikan untuk dibayangkan,
terlalu jelas hingga tidak perlu dibuktikan. Lebih dari seabad yang lalu
Baha’u’llah menulis “Kesejahteraan, kedamaian dan keamanan umat
manusia, tidak mungkin tercapai kecuali bila persatuannya telah
didirikan dengan teguh.” Memperhatikan bahwa “umat manusia sedang
merintih, sedang mendambakan dengan sangat agar dibimbing ke arah
persatuan dan agar berakhir kesyahidan yang dideritanya sepanj ang
zaman,” Shoghi Effendi telah mengulas lebih lanjut, bahwa “Penyatuan
seluruh umat manusia merupakan tanda keunggulan dari tahap yang kini
sedang disongsong oleh masyarakat manusia. Persatuan keluarga, suku,
negara-kota dan bangsa, pernah berturut-turut dicoba dengan berhasil dan
sudah didirikan dengan sempurna.