Kamis, 01 Desember 2016
Di Puncak Purnama
Malam ini kurenung
Saat ikatan telah dikendurkan
Kini tinggalah keikhlasan
Karena lepas secepat kilat atau perlahan
Hanyalah tinggal menunggu waktu
Kamis, 31 Maret 2016
Janji Perdamaian Dunia IV (Sambungan III, Habis)
Sumber
dari optimisme yang kami rasakan adalah sebuah visi yang lebih mulia
daripada penghentian peperangan dan pembentukan aparat-aparat kerja sama
internasional. Menurut Baha’u’llah, perdamaian abadi di antara
negara-negara adalah suatu tahap yang penting, tetapi bukan tujuan akhir
dalam perkembangan sosial umat manusia. Tujuan itu jauh melebihi
gencatan senjata yang semula dipaksakan kepada dunia oleh rasa takut
akan bencana perang nuklir; jauh melebihi perdamaian politik yang dengan
enggan disetujui oleh negara-negara yang saling bersaing dan
mencurigai; jauh melebihi aturan-aturan pragmatis demi keamanan danhidup
berdampingan; bahkan jauh melebihi banyak percobaan-percobaan kerja
sama yang akan dimungkinkan oleh langkah-langkah tersebut.
Tujuan yang
mulia itu adalah penyatuan semua bangsa di dunia menjadi satu keluarga
universal.
Perpecahan
merupakan bahaya yang tak tertahankan lagi oleh negara-negara dan
bangsa-bangsa di dunia; akibatnya terlalu mengerikan untuk dibayangkan,
terlalu jelas hingga tidak perlu dibuktikan. Lebih dari seabad yang lalu
Baha’u’llah menulis “Kesejahteraan, kedamaian dan keamanan umat
manusia, tidak mungkin tercapai kecuali bila persatuannya telah
didirikan dengan teguh.” Memperhatikan bahwa “umat manusia sedang
merintih, sedang mendambakan dengan sangat agar dibimbing ke arah
persatuan dan agar berakhir kesyahidan yang dideritanya sepanj ang
zaman,” Shoghi Effendi telah mengulas lebih lanjut, bahwa “Penyatuan
seluruh umat manusia merupakan tanda keunggulan dari tahap yang kini
sedang disongsong oleh masyarakat manusia. Persatuan keluarga, suku,
negara-kota dan bangsa, pernah berturut-turut dicoba dengan berhasil dan
sudah didirikan dengan sempurna.
Janji Perdamaian Dunia III (Sambungan II)
Persoalan
utama yang harus dipecahkan adalah bagaimana dunia sekarang, dengan
kebiasaan konfliknya yang sudah mengakar, dapat bembah menjadi dunia di
mana keselarasan dan kerja sama akan menonjol.
Tata
tertib dunia hanya dapat didirikan di atas kesadaran teguh tentang
kesatuan umat manusia, suatu kebenaran rohani yang didukung oleh semua
ilmu pengetahuan manusia. Antropologi, fisiologi dan psikologi mengakui
hanya ada satu spesies manusia saja, walaupun manusia sangat beragam
dalam aspek-aspek kehidupan yang sekunder.
Pengakuan
atas kebenaran ini mengharuskan kita untuk meninggalkan segala jenis
prasangka, yaitu prasangka terhadap ras, kelas sosial, warna kulit,
kepercayaan, bangsa, jenis kelamin, taraf peradaban materiil — segala
hal yang menyebabkan orang-orang dapat menganggap dirinya lebih tinggi
daripada yang lain. Pengakuan atas kesatuan umat manusia adalah
prasyarat mendasar yang pertama untuk reorganisasi dan administrasi
dunia sebagai satu negara, yaitu tanah air umat manusia. Pengakuan
universal atas asas spiritual ini, sangatlah penting demi berhasilnya
semua usaha untuk menciptakan perdamaian dunia.
Sabtu, 05 Maret 2016
Akhirat dan Hari Akhir
Tulisan berikut ini saya COPAS dari FP sebelah. Menarik untuk dibaca, sebab menjelaskan konsep pemahaman dua kata/frasa, yang sepertinya sederhana. Tetapi ini sebenarnya menjadi kunci kekuatan keimanan kita terhadap Agama.
Agama apapun tidak asing lagi dengan kata/frasa tersebut, namun pengertiannya bertolak belakang dengan penjelasan di artikel ini. Jadi lawannya (pemahaman ini) adalah manusia sedunia.
Yang ada kata Hari adalah istilah Hari Akhir (Yaumul Akhir).
Terjemahan yang salah itu terdapat dalam beberapa Kitab Tafsir Al-Qur'an, yakni Tafsir Al-Azhar Prof DR. Hamka Juz 1, kata-kata Hari Akhirat berulang-ulang sampai 21 kali ditulis, yakni halaman 120, 128, 203, 204, 205, 206, 207, 208, 209, 210.
Selasa, 16 Februari 2016
Ada Apa Dengan Cahaya ?
Dalam kamus besar bahasa Indonesia
arti kata cahaya adalah:
cahaya/ca·ha·ya/ n 1 sinar
atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang
memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya; 2 kilau
gemerlap (dari emas, berlian): -- nya berkilau bagai intan;
3 kejernihan yang terpancar dari air muka: --
mukanya berseri-seri; 4 Fis bentuk
gelombang elektromagnetik dalam kurun frekuensi getar tertentu yang dapat
ditangkap dengan mata manusia;
Kamus tersebut menggambarkan cahaya dalam arti lugas dan sebenarnya.
Dan tentu saja berbeda jika kata cahaya digunakan dalam makna yang bukan
sebenarnya atau khias. Penggunaan kata cahaya dalam arti yang bukan sebenarnya
biasa ditemui dalam tulisan-tulisan suci atau dalam percakapan kerohanian.
Dalam pengertian kerohanian, kata
cahaya luas sekali maknanya. Inilah mengapa saya sangat tertarik menggunakan
kata cahaya. Dalam kitab-kitab suci berbagai agama, kata cahaya sering muncul. Saya
tidak punya kapasitas untuk meneliti lebih jauh dalam hal ini, misalnya ada
berapa banyak kata cahaya dalam satu kitab, kitab suci apa saja, dan sebagainya.
Tetapi telah banyak bukti menunjukkan kata cahaya berlaku universal untuk semua
agama. Dan tentu saja pengertiannya juga demikian.
Senin, 15 Februari 2016
Berpuisi 'Lagi'
Dulu sekali, saat masih sekolah, saya suka mengolah kata, kata-kata itu saya cuci sedemikian rupa kemudian dimasak dan disajikan (???), sehingga selama dua tahun terakhir di sekolah itu, saya punya tanggung jawab mengelola Majalah Dinding. (Mading, saat itu menjadi alat paling efektif menyalurkan kreatifitas bagi siswa sekolah, sebab media tidak seperti sekarang yang dengan mudah dimanfaatkan).
Seiring waktu berjalan, kesibukan dunia membuat rasa berpuisiku menghilang. Namun kesukaan saya terhadap kata-kata indah yang disusun orang lain masih ada. Dan ini seperti benih terbuang di tempat kering, pada saat ada tetes air, dia berusaha menikmati dan menghidupkan dirinya.
Seiring waktu berjalan, saat rasa berpuisi itu datang, tak ada tempat yang cocok untuk menuliskannya. Itu beberapa tahun terakhir. Namun kini, berbagai media memanjakan, maka tak ada alasan tidak menuliskannya.
Seiring waktu berjalan, kesibukan dunia membuat rasa berpuisiku menghilang. Namun kesukaan saya terhadap kata-kata indah yang disusun orang lain masih ada. Dan ini seperti benih terbuang di tempat kering, pada saat ada tetes air, dia berusaha menikmati dan menghidupkan dirinya.
Seiring waktu berjalan, saat rasa berpuisi itu datang, tak ada tempat yang cocok untuk menuliskannya. Itu beberapa tahun terakhir. Namun kini, berbagai media memanjakan, maka tak ada alasan tidak menuliskannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
