Kegembiraan itu
Sempat kulukiskan saat aku kembali di pantai
Dengan hati tersentuh karena kebersamaan kita
Mendayu rasa karena hembusan angin
Dan itu melenakanku
Kau tahu
Betapa pedihnya saat tigabelas purnama berlalu
Ternyata kegembiraan itu fatamorgana
Pulangku, fatamorgana
Begitu pula aroma segar pasir laut dan angin yang kurindukan
Tigabelas purnamaku adalah fatamorgana
Aku kembali jatuh
Jatuh lebih jauh lagi
Tak kulihat apapun bahkan diriku sendiri
Dimana air mata?
Dimana isak tangis?
Pergi saja, takkan kuperlukan lagi
Sebab takkan ada yang dapat mewakili kepedihan ini
Kecuali meremas genggaman tangan di depan jantung
Dan berharap denyutnya tak menghentak menyakiti
Kali ini aku tak perlu harap
Kuserahkan pada angin bahteraku
Tak peduli berlayar atau terhenti
Bahkan tabrakkan karang hingga karam
Aku sudah tak peduli
Karena cinta telah dikhianati
Kini yang terpendam adalah bara sakit hati
Bersama kemarahan, kebencian, dan kekecewaan
Aku tak perlu harap
Hanya kutunggu bahteraku lapuk hingga karam
Tenggelam bersama kecewa, sakit hati, marah, benci
Biarlah Cinta hanya fatamorgana
26januari2017