Laman

Selasa, 16 Februari 2016

Ada Apa Dengan Cahaya ?



Dalam kamus besar bahasa Indonesia arti kata cahaya adalah:
cahaya/ca·ha·ya/ n 1 sinar atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya; 2 kilau gemerlap (dari emas, berlian): -- nya berkilau bagai intan; 3 kejernihan yang terpancar dari air muka: -- mukanya berseri-seri; 4 Fis bentuk gelombang elektromagnetik dalam kurun frekuensi getar tertentu yang dapat ditangkap dengan mata manusia;

Kamus tersebut menggambarkan cahaya dalam arti lugas dan sebenarnya. Dan tentu saja berbeda jika kata cahaya digunakan dalam makna yang bukan sebenarnya atau khias. Penggunaan kata cahaya dalam arti yang bukan sebenarnya biasa ditemui dalam tulisan-tulisan suci atau dalam percakapan kerohanian.

Dalam pengertian kerohanian, kata cahaya luas sekali maknanya. Inilah mengapa saya sangat tertarik menggunakan kata cahaya. Dalam kitab-kitab suci berbagai agama, kata cahaya sering muncul. Saya tidak punya kapasitas untuk meneliti lebih jauh dalam hal ini, misalnya ada berapa banyak kata cahaya dalam satu kitab, kitab suci apa saja, dan sebagainya. Tetapi telah banyak bukti menunjukkan kata cahaya berlaku universal untuk semua agama. Dan tentu saja pengertiannya juga demikian.

Senin, 15 Februari 2016

Berpuisi 'Lagi'

Dulu sekali, saat masih sekolah, saya suka mengolah kata, kata-kata itu saya cuci sedemikian rupa kemudian dimasak dan disajikan (???), sehingga selama dua tahun terakhir di sekolah itu, saya punya tanggung jawab mengelola Majalah Dinding. (Mading, saat itu menjadi alat paling efektif menyalurkan kreatifitas bagi siswa sekolah, sebab media tidak seperti sekarang yang dengan mudah dimanfaatkan).

Seiring waktu berjalan, kesibukan dunia membuat rasa berpuisiku menghilang. Namun kesukaan saya terhadap kata-kata indah yang disusun orang lain masih ada. Dan ini seperti benih terbuang di tempat kering, pada saat ada tetes air, dia berusaha menikmati dan menghidupkan dirinya.

Seiring waktu berjalan, saat rasa berpuisi itu datang, tak ada tempat yang cocok untuk menuliskannya. Itu beberapa tahun terakhir. Namun kini, berbagai media memanjakan, maka tak ada alasan tidak menuliskannya.