Kemampuan-kemampuan
alami yang membedakan manusia dari semua jenis makhluk hidup lainnya
disimpulkan dalam apa yang dikenal sebagai jiwa manusia; akal adalah
sifat intinya. Kemampuan-kemampuan tersebut telah memungkinkan umat
manusia membangun peradaban-peradaban dan memberikan kemakmuran dalam
aspek materi. Akan tetapi, prestasi-prestasi seperti itu saja tidak
pernah memuaskan jiwa manusia, yang karena sifat gaibnya cenderung untuk
mencari apa yang lebih tinggi, menggapai ke alam gaib, ke arah hakikat
tertinggi, hakikat dari segala hakikat yang tak dapat diketahui yang
disebut Tuhan.
Agama-agama yang telah dibawa untuk umat manusia oleh serangkaian surya rohani, telah menjadi penghubung utama antara manusia dan hakikat tertinggi itu dan telah menstimulasi serta memperhalus kemampuan umat manusia untuk mencapai keberhasilan rohani seiring dengan kemajuan sosial. Agama tidak dapat diabaikan dalam usaha yang sungguh-sungguh untuk menyelesaikan segala urusan manusia dan untuk mencapai perdamaian dunia. Pemahaman dan praktek manusia terhadap agama merupakan sebagian besar bahan sejarah. Seorang ahli sejarah termasyhur pernah melukiskan agama sebagai suatu “kemampuan naluriah manusia”. Amat sulit untuk disangkal, bahwa penyimpangan kemampuan ini telah menyebabkan kekacauan dalam masyarakat dan konflik dalam diri maupun antar manusia.
Meskipun demikian, pengamat yang adil juga tidak dapat meremehkan besarnya pengaruh agama terhadap ekspresi-ekspresi utama dari peradaban. Lebih lanjut, dibutuhkannya agama untuk ketertiban sosial telah berulang-kali dibuktikan dengan pengaruhnya secara langsung terhadap perundang-undangan dan akhlak.