Laman

Senin, 07 Desember 2015

Janji Perdamaian Dunia I (sambungan)

Kemampuan-kemampuan alami yang membedakan manusia dari semua jenis makhluk hidup lainnya disimpulkan dalam apa yang dikenal sebagai jiwa manusia; akal adalah sifat intinya. Kemampuan-kemampuan tersebut telah memungkinkan umat manusia membangun peradaban-peradaban dan memberikan kemakmuran dalam aspek materi. Akan tetapi, prestasi-prestasi seperti itu saja tidak pernah memuaskan jiwa manusia, yang karena sifat gaibnya cenderung untuk mencari apa yang lebih tinggi, menggapai ke alam gaib, ke arah hakikat tertinggi, hakikat dari segala hakikat yang tak dapat diketahui yang disebut Tuhan.

Agama-agama yang telah dibawa untuk umat manusia oleh serangkaian surya rohani, telah menjadi penghubung utama antara manusia dan hakikat tertinggi itu dan telah menstimulasi serta memperhalus kemampuan umat manusia untuk mencapai keberhasilan rohani seiring dengan kemajuan sosial. Agama tidak dapat diabaikan dalam usaha yang sungguh-sungguh untuk menyelesaikan segala urusan manusia dan untuk mencapai perdamaian dunia. Pemahaman dan praktek manusia terhadap agama merupakan sebagian besar bahan sejarah. Seorang ahli sejarah termasyhur pernah melukiskan agama sebagai suatu “kemampuan naluriah manusia”. Amat sulit untuk disangkal, bahwa penyimpangan kemampuan ini telah menyebabkan kekacauan dalam masyarakat dan konflik dalam diri maupun antar manusia.

Meskipun demikian, pengamat yang adil juga tidak dapat meremehkan besarnya pengaruh agama terhadap ekspresi-ekspresi utama dari peradaban. Lebih lanjut, dibutuhkannya agama untuk ketertiban sosial telah berulang-kali dibuktikan dengan pengaruhnya secara langsung terhadap perundang-undangan dan akhlak.

Sabtu, 05 Desember 2015

Janji Perdamaian Dunia (Oktober 1985)

Oktober 1985
Kepada Semua Bangsa di Dunia:
Perdamaian Agung yang selama berabad-abad didambakan oleh orang-orang yang berkemauan luhur, yang visinya telah disampaikan para peramal serta penyair turun-temurun, dan sepanjang zaman selalu dijanjikan oleh tulisan-tulisan suci umat manusia, kini akhirnya berada dalam jangkauan semua bangsa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sekarang terbuka kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat seluruh bumi dengan semua bangsanya yang beraneka ragam, dalam saru perspektif.
Perdamaian dunia tidak hanya mungkin, tetapi pasti terjadi.
Perdamaian merupakan tahap lanjutan dalam evolusi bumi, yang menurut salah seorang pemikir besar dikatakan sebagai “planetisasi umat manusia”.

Rabu, 02 Desember 2015

Ingin Berdua Saja

Jika engkau telah sampai di puncak,
Begitupun aku

Sedangkan kita hanya menikmati segarnya angin dan indahnya alam di kesendirian saja,
Sungguh aku lebih memilih memikulmu saat di pendakian,
Meski kadang harus merangkak dan berbagi akar,
untuk bergelayut saat tebingnya terjal.
Karena di pendakian itu kita bisa saling mencinta.

Jatuh

Tak ingin nyenyak tidur,
agar saat bangun tak sedih meratapi keindahan mimpi itu,

aku sedang berlayar di laut yang datar,
tanpa ombak,
gelombang,

kubiarkan angin membawa ku hanyut,
tak tahu tepi,
tak juga membayangkan indah nya pantai,

sebab tak tahu angin membawa ku ke tepian atau menghempas karang,
biarlah hanyut,

aku sedang takluk dan luruh, pada kendali angin dan arusmu

Pulang

Aku telah di pantai

Tak tahu, angin mana yang membawaku ke tepian
Tak lagi kulihat laut datar, kini ombak dan deru suaranya telah memecah kesunyianku
Aroma segar pasir laut, angin yang kurindukan, telah kembali terasa
Sedang kulihat di ujung garis pasir
Permaisuriku telah bangkit dari simpuh duduknya, sambil menutup lembar terakhir
Buku doa yang tak henti dibacanya
Si kecil berlari menghampiri dan tak sabar mendekapku
Bercerita betapa indahnya saat nyanyi bersama
Dan sang kakak tersenyum bangga
Menggandeng tangan ibunya, menyambutku
Bersama meninggalkan jejak di tepian

Aku telah di pantai